Trivanila Noviza
Pendidikan
merupakan ujung tombak pembangunan suatu bangsa. Pembangunan pendidikan sudah
dilaksanakan sejak Indonesia merdeka. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan
salah satu sarana dalam peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Oleh karena
itu, bidang pendidikan memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh dari
pemerintah, para praktisi pendidikan, dan seluruh elemen masyarakat.
Peningkatan mutu pendidikan tidak
lepas pula dengan peran pemuda sebagai agent
of change dalam suatu negara. Artinya pemuda memiliki peran yang sangat
penting dalam kemajuan suatu bangsa sehingga menuntut para pemuda untuk terus
meningkatkan kapasitasi diri dan berperan aktif di berbagai sendi kehidupan
masyarakat.
Namun ada hal
yang cukup mengkhawatirkan. Pamela Nilan, seorang guru besar di Universitas
Newcastle, Australia, baru-baru ini melakukan penelitian tentang sikap pemuda
Indonesia melihat masa depan. Hasil penelitian Pamela cukup mengejutkan:
sebagian besar pemuda, khususnya dari klas sosial di bawah, menganggap masa depan
mereka sangat suram. Salah satu penyebabnya adalah mahalnya biaya pendidikan.
Anak muda
dari kelas sosial bawah, kata Pamela, cenderung melihat bahwa kurangnya uang, akses, kesempatan dan sumber daya sebagai
hambatan untuk meraih kesuksesan mereka. Sementara bagi anak muda dari klas
atas, hambatan itu justru terletak pada sifat negatif dari diri mereka sendiri.
Survei ini dilakukan terhadap ribuan pemuda di Jakarta, Bali, Solo, Jogjakarta,
Banjarnegara, Lombok, Flores, Sorowako dan Sumatra Barat. Bagi para pemuda itu,
masa depan mereka akan lebih baik jika berkesempatan mengakses tingkat
pendidikan yang lebih baik.
Ini tentu
saja merupakan sesuatu yang mengkhawatirkan. Kita sulit bermimpi mengenai
Indonesia yang lebih baik di masa depan, jika sebagian besar pemuda
terperangkap dalam ‘pesimisme’ dan kehilangan harapan. Dengan demikian,
seharusnya kita menyadari, membangun jembatan ke masa depan adalah dengan
membangun pemuda dan cita-citanya. Kegagalan ini tidak jatuh dari langit. Kita
punya sumber daya yang melimpah. Akan tetapi, kita gagal memanfaatkannya untuk
mencerdaskan kehidupan bangsa—sesuai amanat pembukaan UUD 1945.
Disisi
lain, akses pendidikan dan tenaga pendidik yang tidak merata di seluruh
Indonesia. Setiap daerah di Indonesia belum mendapat perlakuan yang sama dalam
pemerataan pendidikan. Akses pendidikan di kota-kota besar sangat berbeda
dengan akses pendidikan yang kita dapati di daerah-daerah. belum lagi kisah
guru di pelosok minta pindah ke kota, sehingga sedikitnya jumlah tenaga guru di
pelosok. Tidak hanya itu, tingkat pemahaman masyarakat yamg rendah terhadap
pendidikan di daerah juga merupakan faktor penting penyebab rendahnya mutu SDM
yang berdampak pada kualitas anak bangsa di daerah seperti wawasan ilmu
pengetahuan dan sebagainya. Oleh karena ini, perlu adanya kesadaran dikalangan
masyarakat.
Pemberian
pemahaman kepada masyarakat, peningkatan mutu pendidikan dan SDM tentu tidak
lepas dari peran kita sebagai agent of
change yang akan memberikan terobosan – terobosan baru tehadap peningkatan
kualitas pendidikan dan SDM demi perubahan bangsa ke arah yang lebih maju.
Indonesia butuh kita!